SELAMAT JALAN GURUKU

Masuk jurusan Kimia MIPA ITB pada tahun 1981, saya tidak punya bayangan sama sekali tentang profesi Kimiawan, kecuali menjadi Dosen dan Tenaga Analis Kimia. Kegundahan ini berlanjut sampai saya menyelesaikan studi S-1. Saya tetap tidak paham kompetensi apa yang saya miliki sebagai seorang lulusan Kimia, walau pun akhirnya saya memilih menjadi Dosen.

Adalah Pak Santo, begitu beliau dipanggil, yang membuka sumbat pikiran saya. Kuliah beliau tentang Kimia Fisik Lanjut, yang saya ikuti saat S-2, menyadarkan saya bahwa Kimia adalah the Science of molecule. Penguasaan perilaku fisika molekul memungkinkan perancangan sintesis berbagai senyawa kimia, plus identifikasi senyawa Kimia apa saja secara spektroskopik. Ilmu ini tidak akan diperoleh secara mendasar dan komprehensif di jurusan-jurusan lain, selain di Kimia MIPA.

Pelajaran beliau tidak berhenti di situ. Saat bertahun-tahun dilibatkan dalam tim SPMB dan pernah diajak di AIPI, beliau menunjukkan bahwa Kimia adalah Center of Science. Pola pikir kimia yang memecah problem ke dalam unit-unit terkecil pembawa ciri populasi bisa diterapkan dalam menyelesaikan problema pengembagan berbagai sektor pembangunan . Beliau percaya bahwa kompetensi Kimia yg paling dominan adalah the way of chemist think. Kami di ITS kemudian mempopulerkannya dng Chemist without white coat. Kimiawan bisa berperan di mana saja dan kapan saja.

Ilmu-ilmu dari pak Santo ini saya terapkan dan saya tularkan pada para mahasiswa dan siapa saja. Alhamdulillah, sebagian mahasiswa dan rekan kerja yang saya kenal mengaku terinspirasi.

Terima kasih Pak Santo. Saya dan masyarakat Kimia Indonesia sangat kehilangan.

Innalillahi wa inna ilaihi rojiun. Allahuma firlahu warhamhu wa’afihi wa’fuanhu. Ya, Allah, Jadikanlah ilmu-ilmu yang beliau sebarkan sebagai amal sholeh beliau. Lapangkanlah kuburnya dan ampunilah dosa-dosanya.

Selamat jalan guruku,