Pengabdian Masyarakat Tim Kimia ITB: “Mengungkap Kandungan Kopi Oelbiteno”

Pengabdian Masyarakat Tim Kimia ITB: “Mengungkap Kandungan Kopi Oelbiteno”

Bandung, chem.itb.ac.id—-Pengabdian masyarakat Tim Kimia ITB ke Desa Oelbiteno, Kabupaten Kupang, Provinsi Nusa Tenggara Timur (NTT) mengungkap keunggulan dari komoditas kopi Oelbiteno yang mampu meningkatkan daya ekonomi masyarakatnya. Tim yang dipimpin oleh Dr. Ir. Grandprix T.M. Kadja (Dosen KK Kimia Anorganik dan Fisik) dan Dr. Elvira Hermawati (Dosen KK Kimia Organik) melakukan riset dan kajian selama enam bulan untuk meneliti kopi asal Oelbiteno. Kopi Oelbiteno merupakan kopi arabika dengan jenis yang sama dengan kopi dari Flores. Akan tetapi, kopi Flores jauh lebih terkenal dibandingkan dari kopi Oelbiteno. Selain itu, berdasarkan pengamatan Bapak Grandprix dan tim, kopi Oelbiteno lokal masih bernilai murah atau hanya digunakan untuk barter dengan bahan pangan lain.

Nilai ekonomis kopi Oelbiteno yang masih rendah dapat ditingkatkan dengan mengungkap keunggulan kopi produksi lokal tersebut. Hasil penelitian Tim Kimia ITB menunjukkan bahwa kopi Oelbiteno memiliki kandungan asam malat yang lebih tinggi dibandingkan dengan kopi arabika dari Flores. Kandungan asam malat yang lebih tinggi ini membuat kopi Oelbiteno memiliki aroma yang lebih harum. Selain itu, kopi Oelbiteno juga memiliki kandungan asam asetat yang lebih sedikit, sehingga mengurangi rasa kecut dari kopi. Oleh karenanya, kopi Oelbiteno tidak kalah berkualitas dibandingkan dengan kopi Flores. 

Selain meneliti kandungan dari kopi Oelbiteno, Tim Kimia ITB juga memperkenalkan teknologi pasca panen dan teknologi pengolahan limbah. Salah satunya adalah teknik fermentasi dan roasting biji kopi. Teknik fermentasi yang tepat diperlukan untuk menghasilkan jumlah asam malat yang diinginkan. Jenis fermentasi yang sudah diterapkan untuk pengolahan kopi Oelbiteno adalah fermentasi biji kopi secara anaerobik. Sementara itu, teknik roasting biji kopi yang tepat diperlukan agar dihasilkan biji kopi matang yang memiliki sedikit asam asetat. Suhu roasting ideal adalah 180OC untuk mencegah biji kopi menjadi gosong (saat suhu lebih tinggi) atau mengandung terlalu banyak asam asetat (saat suhu terlalu rendah). Limbah yang dihasilkan dari proses pasca panen tersebut juga diolah menjadi bahan scrub campuran sabun dan aroma pada lilin aromaterapi. Bapak Grandprix menjelaskan, “Implementasi teknik pengolahan kopi dan limbahnya di Desa Olebiteno seudah berlangsung dengan baik. Selanjutnya, Tim Kimia ITB berencana untuk menguji teknik fermentasi lain serta meneliti kandungan tanah di daerah tersebut. Tanah yang memiliki komposisi hara tertentu diperkirakan dapat berpengaruh terhadap kandungan kopi Olebiteno.”


Penulis: M. Akbar Thufail

Editor: RMP

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *