Posted November 18, 2018 by Humas Kimia in Berita

Ristekdikti-Kalbe Science Award 2018, Dessy Natalia, Ph.D. dan Tim Raih Penghargaan Kategori Diagnostik

(BANDUNG, www.chem.itb.ac.id) Dalam rencana induk riset nasional, pemerintah telah menata ulang program riset yang merupakan hilirisasi 3 bidang riset yang terdiri dari pangan, energi, dan kesehatan. Di bidang kesehatan, Kemenristekdikti yang bekerja sama dengan PT Kalbe mengadakan RKSA (Ristekdikti-Kalbe Science Award) 2018 yang merupakan suatu bentuk penghargaan bagi para peneliti di Indonesia dalam bidang kedokteran, farmasi, ilmu hayati, dan teknologi tepat guna sebagai media hilirisasi hasil penelitian untuk meningkatkan kesehatan masyarakat, sehingga penelitian yang dilakukan harus aplikatif. Program ini sudah berjalan sejak tahun 2008 dengan interval setiap 2 tahun sekali. Penghargaan ini diberikan kepada 3-5 orang peneliti terbaik yang mengirimkan proposal penelitiannya. Pada tahun ini, penghargaan yang diberikan berupa pemberian dana penelitian. Adapun kategori penelitian dikelompokkan menjadi 3 kategori sesuai dengan produk bidang kesehatan di Indonesia, yaitu: kategori 1 (Farma, Biofarma, Sel Punca), kategori 2 (E-health, Alat Kesehatan, Diagnostik), kategori 3 (Makanan dan Minuman Kesehatan, Produk Bahan Alam).

Salah satu dari 5 penerima penghargaan adalah Dessy Natalia, Ph.D. yang merupakan perwakilan dari timnya untuk menerima penghargaan tersebut pada 26 Oktober 2018 lalu di Jakarta. Tim tersebut terdiri dari beberapa dosen ITB (termasuk beliau sebagai ketua penelitinya), dosen dari Fakultas Kedokteran Universitas Padjajaran, dan juga bekerja sama dengan partner industri yaitu PT. Pakar Biomedika Indonesia. Kerjasama tim ini sudah dibangun selama 10 tahun. Selain pihak dosen, penelitian ini didukung oleh mahasiswa dan juga asisten peneliti.

Dessy Natalia, Ph.D. berfoto bersama dalam acara Ristekdikti-Kalbe Science Award 2018.
(Foto: Ihsanawati)
 

Untuk menerima penghargaan ini, proses yang ditempuh cukup panjang. Ibu Dessy dan tim perlu melalui tahap seleksi yang terdiri dari tahap pengiriman pra proposal secara online, tahap pengiriman proposal lengkap secara online, dan tahap presentasi proposal penelitian di hadapan dewan juri. Pendaftar tidak dibatasi usia, semua peneliti dari universitas negeri/swasta, lembaga penelitian, independen atau yang bekerja sama dengan industri dapat ikut ikut serta dalam proses seleksi ini. Sekitar 445 peneliti mengirimkan pra proposalnya, dan dari jumlah tersebut hanya 10 pra proposal pada masing-masing kategori (total 30 pra proposal) yang berhak mengirimkan proposal lengkapnya. Hingga di tahap akhir, hanya 3 proposal pada masing-masing kategori yang berhak untuk masuk tahap presentasi. Di tahap akhir ini, Ibu Dessy sebagai perwakilan dari tim maju untuk mempresentasikan proposal penelitiannya.

Ibu Dessy dan tim memperoleh penghargaan di kategori 2 yaitu diagnostik. Adapun penelitian yang dikembangkan adalah pembuatan alat uji cepat (test kit) untuk mendeteksi demam denggi (DBD). Protein-protein rekombinan adalah salah satu komponen dari alat uji cepat ini dan berperan sebagai antigen dari protein denggi. Metode yang dilakukan adalah memasukkan gen yang mengkode protein denggi ke dalam suatu bakteri, misalnya E.coli. Dalam proses penelitiannya, pembuatan protein rekombinan dan pelabelan dengan emas dilakukan di ITB, untuk perakitan kit dan pengujian yang sifatnya masih terbatas dilakukan di PT. Pakar Biomedika Indonesia yang bertempat di Rancabentang, Bandung. Sedangkan untuk pengujian sampel serum pasien yang jumlahnya lebih banyak dilakukan di Fakultas Kedokteran Universitas Padjajaran.

Dessy Natalia, Ph.D., ketua tim peraih penghargaan Ristekdikti-Kalbe Science Award 2018 Kategori Diagnostik. (Foto: Prisma)
 

“Sebelumnya kita sudah membuat alat deteksi ini, namun kinerjanya masih kurang bagus, sehingga saat ini akan lebih dikembangkangkan dengan cara membuat semacam campuran, dengan parameter agar sensitivitas dan spesifitasnya meningkat.” Ujar ibu Dessy saat diwawancarai medio November 2018.Semoga dunia penelitian di Indonesia semakin terang benderang dengan adanya peneliti-peneliti yang semangat dalam mengembangkan ilmu pengetahuan demi kemaslahatan orang banyak. Semoga pembaca termotivasi dan mendorong untuk ikut berkontribusi dalam kemajuan penelitian di Indonesia. (Oleh: Prisma Silviya Auliawati, editor: MI)