Kuliah KI4211 Kimia dan Masyarakat: “Strategic Role of the Petrochemical Industry in Modern Society”

Kuliah KI4211 Kimia dan Masyarakat: “Strategic Role of the Petrochemical Industry in Modern Society”

Kuliah tamu pada pertemuan keempat ini menghadirkan Ibu Ranis Sinar Ruminten, B.Sc., MBA., seorang praktisi industri petrokimia yang menjabat sebagai Technical Service Engineer di PT Chandra Asri Pacific Tbk (dahulu PT Chandra Asri Petrochemical Tbk). Beliau merupakan alumni Program Studi Kimia ITB angkatan 2013 yang menyelesaikan studi sarjananya pada tahun 2017 dengan fokus riset pada Kimia Organik. Selanjutnya, beliau menempuh pendidikan Master of Business Administration (MBA) di ITB pada tahun 2023-2025 dengan kelompok riset Manajemen Operasi dan Kinerja.

Perjalanan profesional Ibu Ranis di Chandra Asri dimulai sejak Juni 2018, di mana beliau menghabiskan lebih dari tujuh tahun sebagai Research and Development (R&D) Polyethylene Engineer sebelum berpindah ke divisi Technical Service pada Oktober 2025. Beliau memiliki keahlian luas dalam formulasi produk Polyethylene (HDPE dan LLDPE), penanganan keluhan pelanggan, serta manajemen proyek strategis seperti optimasi biaya produksi tanpa mengurangi kualitas material. Beliau juga memegang sertifikasi Green Belt Lean Six Sigma (2023) dan memiliki rekam jejak publikasi ilmiah mengenai pengaruh tipe ko-monomer terhadap properti HDPE.

Pemaparan dibuka dengan menekankan peran vital industri petrokimia sebagai penyokong utama kebutuhan dasar manusia, terutama di sektor pangan dan kesehatan. Krisis rantai pasok global, seperti penutupan Selat Hormuz, dapat berdampak langsung pada kenaikan harga kebutuhan pokok dan obat-obatan karena ketergantungan yang tinggi pada plastik untuk pengemasan. Ibu Ranis menjelaskan bahwa polimer seperti Polyethylene (PE) dan Polypropylene (PP) merupakan material kemasan modern yang superior dibandingkan pembungkus alami (seperti daun pisang atau jagung) karena memiliki barrier kuat terhadap kelembapan dan udara, lebih higienis, steril, serta bersifat ringan dan tahan lama.

Produksi PE dan PP dilakukan dalam reaktor bertekanan rendah menggunakan fase gas (gas phase) atau fase lumpur (slurry phase). Proses ini melibatkan monomer (etilen/propilen), katalis, dan ko-monomer. Chandra Asri menggunakan tiga jenis katalis utama:

  1. Ziegler-Natta (berbasis Titanium).
  2. Metallocene (berbasis Zirkonium).
  3. Phillips (berbasis Kromium).

Secara molekuler, karakteristik PE ditentukan oleh densitasnya. HDPE memiliki struktur rantai linear dengan percabangan minimal, menghasilkan kristalinitas tinggi (50-80%) yang membuatnya lebih kuat dan opak. Sebaliknya, LLDPE memiliki banyak percabangan pendek yang mengganggu kerapatan rantai, sehingga densitas dan kristalinitasnya lebih rendah (5-15%), yang menghasilkan tampilan lebih transparan. Properti lain yang krusial adalah Melt Index (MI) yang mengukur viskositas, polimer dengan rantai panjang memiliki MI rendah dan aliran yang lambat, cocok untuk aplikasi seperti pipa atau blow molding.

Untuk memenuhi standar industri, resin polimer murni ditambahkan aditif pada sistem peletisasi. Beberapa aditif esensial meliputi:

  1. Antacid (Acid Scavenger) berfungsi menetralkan residu katalis asam untuk mencegah korosi pada mesin.
  2. Antioxidant mencegah degradasi termal dan perubahan warna (menguning) pada pelet.
  3. Anti-block menggunakan mineral alami seperti Talc untuk meningkatkan friksi pada permukaan plastik agar tidak lengket.

Analisis kandungan aditif ini diverifikasi menggunakan instrumen Fourier Transform Infrared (FTIR) untuk gugus fungsi organik dan X-Ray Fluorescent (XRF) untuk analisis elemen logam residu katalis.

Dalam sesi tanya jawab, dibahas kasus keluhan pelanggan mengenai produk yang menguning. Ibu Ranis menjelaskan prosedur investigasi yang melibatkan pengecekan kondisi mesin pelanggan dan formulasi produk. Tim R&D menggunakan uji Oxidative-Induction Time (OIT) untuk membuktikan apakah pelanggan mencampurkan material daur ulang (recycle) ke dalam material murni (virgin), karena material daur ulang akan menunjukkan waktu induksi oksidasi yang lebih pendek. Selain itu, menanggapi isu lingkungan, Chandra Asri telah mengembangkan produk Grene® yang dapat terurai oleh sinar UV serta inovasi aspal plastik (Sirclo) sebagai bentuk ekonomi sirkular.

Pemaparan Ibu Ranis memberikan perspektif yang sangat mencerahkan bagi saya sebagai mahasiswa Teknik dan Pengelolaan Sumber Daya Air (TPSDA). Saya menyadari bahwa industri petrokimia tidak hanya menghasilkan plastik sekali pakai, tetapi juga komponen krusial bagi infrastruktur air, seperti pipa HDPE untuk distribusi air bersih yang tahan karat dan memiliki masa pakai panjang. Hal ini membuktikan adanya hubungan erat antara kemandirian industri polimer nasional dengan ketahanan infrastruktur air yang saya pelajari.

Saya juga sangat terkesan dengan penjelasan mengenai aspek molekuler yang memengaruhi sifat fisik material. Analogi bahwa polimer yang terkena panas dan tekanan akan mengalami perubahan struktur molekul, serupa dengan manusia yang berubah karakternya saat menghadapi tekanan hidup, memberikan pesan moral yang mendalam bagi saya sebagai mahasiswa. Hal ini menyadarkan saya bahwa setiap proses “tempaan” dalam akademik, termasuk program fast-track yang sedang saya jalani, pada akhirnya bertujuan untuk membentuk profil yang lebih tangguh dan bermanfaat bagi masyarakat.

Terakhir, komitmen Chandra Asri terhadap keberlanjutan melalui aspal plastik dan sertifikasi halal dari MUI menunjukkan bahwa industri kimia masa kini sangat memperhatikan etika dan dampak sosial. Sebagai calon insinyur, saya terinspirasi untuk selalu mempertimbangkan aspek siklus hidup material (life cycle) dalam setiap rancangan teknis, memastikan bahwa pembangunan infrastruktur tidak hanya efisien secara fungsi, tetapi juga ramah terhadap ekosistem air dan lingkungan secara keseluruhan. (Ayang Rendy Risma Hidayat (15822039))

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *