Posted September 26, 2017 by Humas Kimia in Informasi

Seri Kuliah Umum FMIPA ITB 2017 – Prof. Dr. Yana Maolana Syah

Seri Kuliah Umum FMIPA ITB 2017

26 Agustus 2017
Auditorium Campus Center Timur ITB

 

“Temulawak (Curcuma xanthorrhiza): Obat Tradisional Warisan Nenek Moyang”

 Yana Maolana Syah
(yana@chem.itb.ac.id)

Kelompok Keilmuan Kimia Organik
Fakultas Matematikan dan Ilmu Pengetahuan Alam
Institut Teknologi Bandung

 

Indonesia merupakan negara tropika yang memiliki keragaman spesies tumbuhan yang tinggi, termasuk tumbuhan obat kelompok ’Temu-temuan’ atau Curcuma (famili Zingiberaceae). Tumbuhan Curcuma merupakan tumbuhan obat yang penting di Indonesia, karena lebih dari 50 resep jamu yang beredar di Indonesia menggunakan rimpang Curcuma. Salah satu kelompok tumbuhan ini yang dikenal luas adalah Temulawak atau Curcuma xanthorrhiza. Jamu-jamu yang mengandung Temulawak diyakini mampu mengobati berbagai penyakit, antara lain gangguan saluran pencernaan, gangguan hati, radang empedu, radang ginjal, batu empedu, wasir, reumatik, kolesterol tinggi, haid tidak lancar, serta untuk meningkatkan nafsu makan. Selain itu, rimpang Temulawak juga banyak dimanfaatkan sebagai rempah pada berbagai masakan, pemberi warna kuning pada makanan, minuman untuk menjaga kesegaran badan, serta untuk bahan baku kosmetik. Kegunaan yang banyak tersebut telah mendorong para peneliti untuk menelaah kandungan kimia pada rimpang tersebut. Dari berbagai penelitian telah terungkap bahwa rimpang Temulawak mengandung senyawa kimia berupa padatan yang berwarna jingga, yaitu kurkumin, yang merupakan salah satu komponen utama. Rimpang temulawak juga mengandung  raksi berupa minyak kental, dimana komponen utamanya adalah santorizol dan kurkumen. Selain santorizol, fraksi minyak juga mengandung berbagai senyawa kimia terpen dari jenis germakran dan guaian. Kurkumin telah dibuktikan secara ilmiah memiliki banyak efek biologis, meliputi anti-peradangan, anti-oksidan, anti-mutagenik, anti-metastatik, anti-angiogenik, proteksi syaraf, mempengaruhi sistem imun, meningkatkan penyembuhan luka, serta anti-virus, anti-jamur dan anti-bakteri. Santorizol banyak dikaji berkaitan dengan sifat anti-bakteri, sementara kajian biologis terhadap komponen terpen lainnya masih sangat terbatas. Berdasarkan fakta tersebut di atas, tidak mengherankan bahwa jamu-jamuan yang mengandung Temulawak merupakan warisan nenek moyang yang perlu dilestarikan dan dikembangkan.