Posted August 27, 2018 by Humas Kimia in Berita

Seri Kuliah Tamu Kimia ITB 2018 – Kiki Adi Kurnia, Ph.D. (UTP, alumni KI 00)

(BANDUNG, www.chem.itb.ac.id) Program Studi Kimia ITB mengadakan Seri Kuliah Tamu dengan mengundang salah satu alumni Kimia ITB angkatan 2000, Kiki Adi Kurnia, Ph.D. pada Jumat (24/8) yang bertempat di Ruang 2104 Kimia ITB. Kuliah tamu ini mengambil bentuk diskusi interaktif yang dilaksanakan kurang lebih selama 2 jam dengan dipandu oleh bapak Muhammad Iqbal, Ph.D. sebagai moderator dengan tema bahasan “Strategi  Tembus Beasiswa Luar Negeri”.

Kiki Adi Kurnia saat ini berprofesi sebagai dosen kimia organik (senior lecturer) di Teknik Kimia UTP (Universiti Teknologi PETRONAS) Malaysia. Beliau sedang berada di Indonesia dalam rangka rangkaian kegiatan Diaspora 2018, suatu program dari Kementerian Riset, Teknologi, dan Pendidikan Tinggi Republik Indonesia. Program ini mengundang 48 orang ilmuan diaspora yang berasal dari 11 negara untuk berbagi ilmu dan pengalaman dalam acara SCKD (Simposium Cendekia Kelas Dunia). Kegiatan yang dilaksanakan kurang lebih satu pekan di Jakarta ini bertujuan untuk meningkatkan perkembangan riset dan ilmu pengetahuan di Indonesia. (sumber : sumberdaya.ristekdikti.go.id). Momen “pulang kampung” ini beliau jadikan kesempatan untuk bersilaturahmi dengan menjadi pemateri kuliah tamu di almamater tercinta, tempat beliau pernah mengenyam pendidikan untuk jenjang sarjana, Kimia FMIPA Institut Teknologi Bandung.

Terdapat beberapa hal yang dijelaskan oleh beliau pada kuliah tamu siang hari itu, diantaranya mengenai riwayat pendidikan dan bagaimana cara beliau bisa melanjutkan studi di UTP beserta segala kegiatan akademik dan non-akademik yang beliau lakukan, serta riset yang beliau geluti. Ketertarikan beliau dalam dunia riset berawal sejak mengerjakan tugas akhir. Saat itu beliau mengambil tugas akhir bidang kimia anorganik dibawah bimbingan Prof. Djulia Onggo. Dari sana beliau banyak belajar dan mengasah kemampuannya dalam bidang penelitian.

“Tidak ada usaha yang menghianati hasil”, mungkin itulah kalimat yang cukup menggambarkan hasil kerja kerasnya selama ini. Selepas menyelesaikan pendidikan sarjana di ITB, beliau mengikuti kegiatan seminar nasional International Conference of Mathematics and Natural Sciencse (ICMNS 2006). Pada kesempatan tersebut, belau berkomunikasi dengan pihak UTP dan kemudian berhasil mendapatkan kesempatan untuk melanjutkan pendidikan magister beliau di UTP. Ketertarikan beliau dalam dunia riset terus berlanjut, terlihat dari beliau yang dapat menyelesaikan program doktornya di UTP dengan sangat cepat. Beliau kemudian memulai karirnya sebagai postdoctoral di PETRONAS Ionic Liquid Center Malaysia, dan selanjutnya di Universidade de Aveire Portugal. Selain melakukan riset, beliau juga sering traveling untuk tetap mendapatkan keseimbangna dalam hidup.

Seri Kuliah Tamu Kimia dengan pembicara Kiki Adi Kurnia, Ph.D., Senior Lecturer Kimia Organik di Universiti Teknologi PETRONAS, Malaysia. (Foto: Rafiq Arsyad)

Dalam kesempatan yang sama, beliau juga menceritakan tentang dunia riset yang masih digelutinya hingga saat ini. Beliau banyak berkecimpung di chemical engineering-oil and gases. Topik yang biasanya beliau kerjakan adalah ionic liquid. Kecintaannya terhadap dunia riset menghasilkan banyak karya, beliau banyak menerbitkan paper yang sering dijadikan rujukan. Dengan 48 article yang terindex oleh Scopus, beliau memiliki h-index sebesar 20 dan total sitasi 969 (pada saat artikel ini ditulis), sebuah prestasi yang sangat membanggakan bagi seorang peneliti sekaligus akademisi. Beliau juga membangun bekerja sama dengan beberapa professor dari berbagai negara, termasuk Amerika, Prancis, Portugal, dan tentunya Indonesia. Hal ini tentunya memberikan kita pembelajaran bahwa yang perlu kita lakukan tidak hanya mengerjakan apa yang kita cintai, tetapi juga mencintai apa yang kita kerjakan.

Perkuliahan ditutup dengan memberikan tawaran kepada peserta kuliah yang berminat melanjutkan pendidikan master di Universitas Teknologi PETRONAS untuk serta doktor di Universidade de Aveire Portugal untuk dapat menghubungi beliau. Adapun persyaratan yang harus dipenuhi adalah Indeks Prestasi Kumulatif minimal 3.00/4.00 dan skor IELTS minimal 6.0 (untuk program master). Tawaran ini menunjukkan sikap optimisme beliau terhadap mahasiswa ITB yang dapat bersaing dengan mahasiswa dari berbagai negara lain.

“Jangan pernah lelah mencintai negeri ini.” Itulah kalimat penutup perkuliahan tamu yang dilaksanakan Jumat kemarin. Dari kalimat tersebut beliau mengingatkan peserta kuliah bahwa sejauh apapun kita berada, kita harus mempertahankan cinta terhadap negeri yang telah kita tanam sejak dahulu dan menggenggam erat rasa nasionalisme yang kita miliki. Banyak peserta kuliah yang merasa antusias dengan materi yang dibagikan oleh beliau, Salah satunya adalah Rafiq, mahasiswa Kimia ITB angkatan 2016.Rafiq merasa sangat puas dengan materi pada kuliah tamu Jumat kemarin. Rafiq mengatakan bahwa seri kuliah tamu seperti ini sangat sayang untuk dilewatkan karena materinya yang sangat informatif dan bermanfaat sebagai bahan pertimbangan untuk melanjutkan studi ke jenjang berikutnya.

“Ini adalah salah satu kuliah tamu terbaik yang pernah saya ikuti, karena saya bisa memperoleh banyak informasi. Selain itu, pak Kiki sendiri dalam penyampaian materinya sangat baik sehingga membuat saya semakin tertarik untuk berkecimpung di dunia riset.” ujarnya. (Prisma Silviya Auliawati dan Rafiq Arsyad, editor: MI)

Penyerahan kenang-kenangan oleh moderator acara, Dr. Muhammad Iqbal, M.Si. kepada narasumber kuliah tamu,Kiki Adi Kurnia, Ph.D. (Foto: Rafiq Arsyad)