Home

Menu Utama
Kelompok Keilmuan
Who's Online
Kami memiliki 16 Tamu online
Login Form



JENESYS 2012, Meningkatkan Kerjasama Remaja Indonesia dan Jepang
Ditulis oleh Administrator   
Senin, 18 Juni 2012 03:38
“Perjalanan yang menggugah semangat!” Komentar itu yang keluar dari Rizky Adriansyah Ritonga, mahasiswa yang saat ini menempuh S1 di Jurusan Kimia ITB. Pada tanggal 6 Mei hingga 16 Mei 2012 lalu, Ia mengikuti program pertukaran pelajar yang diadakan oleh pemerintah Jepang bernama Japan-East Asia Network of Exchange for Students and Youths 2012 (JENESYS 2012). Program ini bermaksud untuk “memberi landasan yang kuat bagi terciptanya hubungan kerjasama yang erat di antara negara Asia melalui kegiatan pertukaran siswa dan pemuda dalam skala besar”.
Mengapa dalam skala besar? Latar belakang program ini adalah pada bulan Januari 2007, Perdana Menteri Jepang saat itu, Shinzo Abe, menyatakan bahwa Jepang berencana menyelenggarakan program kegiatan persahabatan remaja selama 5 tahun ke depan dengan mengundang sekitar 6000 orang remaja dalam setiap tahunnya, terutama remaja dari negara-negara yang ikut serta dalam pertemuan puncak para kepala negara Asia Timur (Negara-negara ASEAN, Australia, China, India, Selandia Baru, dan Korea). Berdasarkan rencana ini, pada tahun 2007 pemerintah Jepang mencanangkan “Program Jaringan Pertukaran Siswa dan Pemuda Jepang-Asia Timur Abad Ke-21 (JENESYS Programme) ”. Dalam program ini akan dilaksanakan berbagai bentuk program kegiatan persahabatan seperti mengundang remaja Asia Timur ke Jepang maupun mengirim remaja Jepang ke Asia Timur dengan bantuan dan kerjasama negara-negara maupun organisasi-organisasi terkait. Program ini diharapkan dapat memperdalam rasa saling pengertian di antara para remaja yang merupakan generasi penerus yang akan berperan penting di negara-negara peserta pertemuan puncak
para kepala negara Asia Timur tersebut di masa yang akan datang.
“Tahun 2012 merupakan tahun terakhir pelaksanaan program ini. Selama 4 tahun terakhir, sasaran program ini adalah murid-murid SMA di Indonesia. Pada tahun kelima program ini ditujukan untuk mahasiswa dan Alhamdulillah saya mendapatkan kesempatan”. ujar mahasiswa tingkat 4 yang saat ini mengemban amanah sebagai Senator HMK ‘AMISCA’ ITB periode 2012-2013 tersebut.
Persyaratan untuk mengikuti program ini cukup mudah di ITB. Persyaratan seperti pengisian form, transkrip nilai, nilai TOEFL dan penulisan esai mungkin sudah cukup lumrah dewasa ini. Namun proses ini sepenuhnya berada di bawah otoritas universitas masing-masing sehingga teman-teman dari universitas lain mungkin mengalami proses yang berbeda.
Delegasi Indonesia pada program JENESYS 2012 ini berjumlah 70 orang yang tersebar dari Provinsi Aceh hingga Nusa Tenggara Barat. Delegasi ITB sendiri berjumlah 3 orang, yaitu Rizky Adriansyah Ritonga (Kimia 2009), Verry Anggara Musriana (Fisika 2009) dan Fristy Tania (Teknik Sipil 2009).
Pada tanggal 6-7 Mei 2012, para peserta melalui proses orientasi dan cek kesehatan di Jakarta. Pada tanggal 8 Mei 2012 peserta diberangkatkan ke Tokyo. Program di Tokyo berupa kuliah umum tentang budaya Jepang, kunjungan ke Japan Ministry of Foreign Affairs(MOFA) dan kunjungan ke Museum Edo-Tokyo. Di sini dapat dilihat bahwa bagaimana penghargaan masyarakat Jepang terhadap budaya masih sangat tinggi di tengah kemajuan negaranya.
Pada tanggal 10-14 Mei 2012, 70 peserta berpisah untuk mengunjungi daerah-daerah yang berbeda di Jepang. Pembagian ini berdasarkan pada jurusan, General Arts mengunjungi daerah Chiba, Natural/Environmental Studies mengunjungi daerah Aichi dan Technology/IT mengunjungi daerah Fukuoka. Di masing-masing daerah, peserta akan melalui kuliah di universitas Jepang dan proses Homestay untuk memahami lebih dalam bagaimana kehidupan sehari-hari masyarakat Jepang. Setiap 3
orang atau 2 orang peserta akan tinggal bersama satu keluarga Jepang selama 2 hari.
“Walaupun hanya 2 hari, ikatan batin sudah terjalin sangat erat antara para peserta dan keluarga Homestay di Jepang. Kendala bahasa seakan tak ada lagi. Bahkan Okāsan (Re:sebutan untuk ibu di Jepang) saya saat Homestay mengirimkan paket dari Jepang sepulangnya saya ke Indonesia” ujar mahasiswa berkacamata tersebut.
Hari-hari terakhir para peserta dihabiskan untuk penyiapkan presentasi hasil program selama kurang lebih satu minggu.  Presentasi akan ditampilkan pada Menlu Jepang dan pejabat JICE (Japan International Cooperation Center) selaku penyelenggara dalam bentuk slide presentasi dan penampilan budaya Indonesia.
Walaupun tahun ini adalah tahun terakhir program ini, Rizky berharap program seperti ini terus diadakan agar lebih banyak lagi pemuda pemudi Indonesia yang tergugah semangatnya untuk memajukan Indonesia agar dapat melampaui Jepang.
Perkataan semangat ‘Ganbatte’ yang sering diucapkan oleh orang Jepang ternyata memiliki makna yang dalam. Negara Jepang adalah negara yang hamper tak mempunyai sumber daya alam dan sering mengalami bencana alam berupa gempa dan tsunami. Namun, keterbatasan itu tak membuat masyarakat Jepang lemah dan menyerah, justru mereka terus bersemangat dan pantang menyerah untuk mengatasi keterbatasan tersebut, sama seperti arti dari kata ‘Ganbatte’. Bagaimana dengan
Indonesia? Apakah Indonesia harus mengalami keterbatasan terlebih dahulu untuk mencapai kemajuan? Tentu saja tidak, saya percaya Indonesia bisa maju dan bahkan melampaui Jepang, jika kita berubah dan berkerja keras mulai saat ini. Ganbatte!!

 

LAST_UPDATED2
 
Kunjungan Industri dan Studi Banding 2012
Ditulis oleh Administrator   
Jumat, 01 Juni 2012 03:38
Pada tanggal 23-24 Mei 2012, Mahasiswa Program Studi Kimia yang difasilitasi oleh HMK AMISCA ITB melakukan kunjungan industri dan studi banding (KISB) ke PT. Pupuk Kujang dan Pusat Laboratorium Forensik Bareskrim POLRI.  Kegiatan ini diketuai oleh Michelle (KI09) dan diikuti oleh sekitar 70 orang peserta beserta dua dosen pembimbing yaitu Bapak Dr. Henry Setiyanto dan Ibu Ria Sri Rahayu, M.Si. Rombongan peserta KISB berangkat pada pukul 06.00 menuju kawasan industri  PT. Pupuk Kujang di Cikampek. Rombongan tiba sekitar pukul 8.30 dan langsung disambut oleh pihak PT. Pupuk Kujang.
 Pada saat berada di PT. Pupuk Kujang, para peserta dijelaskan tentang sistem keamanan yang berlaku di pabrik, Sistem produksi, dan juga sistem kontrol pada hasil produksi. PT. Pupuk Kujang memiliki beberapa anak perusahaan yang bekerja bersama untuk menghasilkan suatu bahan kimia yang dapat menbantu  meningkatkan kesejahteraan hidup masyarakat. Salah satu produk yang dihasilkan oleh PT.Pupuk Kujang adalah pupuk urea. Bahan dasar membuatan pupuk urea adalah gas nitrogen (N¬¬2), gas hydrogen (¬H¬2) , dan gas karbondioksida (CO2). Sedangkan anak perusahaan dari PT. Pupuk Kujang menghasilkan bahan kimia seperti hidrogen peroksida oleh PT. Peroksida Indonesia Pratama, ammonium nitrat dan asam nitrat oleh PT. Multi Nitrotama Kimia, asam formiat oleh PT. Sintas Kurama Perdana. Setelah diberikan penjelasan mengenai sistem yang terdapat pada pabrik, para peserta juga diberi kesempatan untuk berkeliling pabrik dengan menggunakan bus dan melihat-lihat proses produksi serta alat-alat yang digunakan pada saat proses produksi dilakukan.
Pada hari berikutnya, rombongan peserta KISB melanjutkan perjalanan ke kantor pusat laboratorium forensik (Puslabfor) Bareskrim  POLRI Jakarta setelah pada malam sebelumnya rombongan bermalam di kawasan anyer. Sesampai di kantor Puslabfor, rombongan disambut oleh Bapak Agus yang merupakan alumni Kimia ITB. Beliau juga menjelaskan bahwa di puslabfor sendiri memiliki lima bidang yaitu bidang kimia dan biologi forensik, bidang  fisika dan komputer forensik, bidang  balistik dan metalurgi forensik, bidang narkotika dan obat berbahaya forensik, dan dokumen dan uang palsu forensik. Peserta KISB berkesempatan untuk mendatangi setiap bidang  dan melakukan tanya jawab mengenai apa saja yang dapat dilakukan dan bagaimana proses identifikasi forensik dari setiap barang bukti yang akan diteliti.  Para peserta KISB terkesan dengan penjelasan-penjelasan yang diberikan oleh pihak puslabfor dan tidak sedikit dari peserta yang tertarik untuk dapat bekerja di puslabfor. Para peserta juga terkesan dengan instrument-instrumen yang digunakan di puslabfor, salah satunya adalah alat pendeteksi kebohongan atau Polygraph Lavayye selain itu para peserta juga merasa senang karena instrument yang biasanya mereka gunakan di laboratorium kimia seperti AAS, FT-IR, dan GC-MS dapat digunakan sebagai alat untuk memeriksa barang bukti kejahatan kriminal. Setelah melakukan studi banding ke Puslabfor Bareskrim POLRI, rombongan peserta KISB melanjutkan perjalanan untuk kembali ke kampus ITB.

 

 

LAST_UPDATED2
 
Kunjungan HMK Universitas Negeri Malang
Ditulis oleh Administrator   
Jumat, 25 Mei 2012 03:15
Bandung, chem.itb.ac.id – Universitas Negeri Malang (UM) Jawa Timur pada Rabu 23 Mei 2012 pagi, telah berkunjung ke program studi Kimia ITB. Acara bertempat di ruang 2104 ini disambut hangat oleh para mahasiswa kimia Amisca dan staf Humas Kimia ITB, Bapak Rusnadi M.Si. Kurang lebih sebanyak tujuh puluh lima mahasiswa UM yang dibimbing oleh dua orang dosen UM yaitu Bapak Yudi dan Bapak Aliandri. Ucapan selamat datang, disampaikan Bapak Rusnadi kepada segenap rombongan dan dilanjutkan sambutan dari wakil rombongan, Bapak Yudi.
 Dalam sambutannya, Pak Yudi menyampaikan terima kasih pada program studi Kimia ITB yang telah menerima kunjungan ini. Besar harapannya, kunjungan ini dapat menggali ilmu lebih dalam dari Kimia ITB yang lebih senior dalam pendidikan tinggi di Indonesia.
Tidak lupa, para wakil mahasiswa dari masing-masing kampus juga menyampaikan sambutannya. Dari Amisca ITB, diwakili Aria Azhamy sebagai Deputi hubungan luar dan alumni. Serta dari UM, diwakili ketua himpunan, Nasrulloh Hadis.
Pengenalan program studi Kimia ITB disampaikan Bapak Rusnadi. Mulai dari visi misi, sejarah, sistem pendidikan, fasilitas, program honours fast track, dan program-program kemitraan Kimia ITB dengan lembaga di luar negeri. Sebagai awal, Pak Rusnadi menyampaikan dimanakan peran ilmu dasar dalam pembangunan suatu kemajuan bangsa, beliau menyampaikan bila suatu kemajuan diibaratkan suatu rumah, maka ilmu dasar itu berada dalam fondasi rumah tersebut, tidak terlihat memang, tapi peranannya sangat penting. Bila fondasi itu kokoh, maka jaminan kekuatan banguanan itu tidak perlu diragukan, sebaliknya bila fondasinya lemah, maka bangunan itu akan sangat labil.
Para peserta kunjungan sangat antusias menggali informasi, lebih lanjutnya mereka tidak sungkan bertanya. Program Doktor Unggulan menjadi salah satu yang ditanyakannya, cara kolaborasi penelitian, kemahasiswaan, biaya perkuliahan, program magister, dan yang lainnya.
Salah satu mahasiswa UM bertanya, bagaimana peranan program studi dalam kegiatan Program Kreativitas Mahasiswa (PKM). Pak Rusnadi pun menjawab, peran program studi, khususnya dosen dibuat cukup jauh. Hal ini dikarenakan, mahasiswa yang telah dewasa harusnya memiliki kemandirian, dan peran pembimbing hanya sebatas membimbing. Ide, pengerjaan dan hal teknis lainya, mahasiswalah yang mengeksplorasi lebih mendalam sehingga mahasiswa terbiasa mandiri dan merasakan sendiri feel dari karya yang dibuatnya.
Selesai tanya jawab, dilanjutkan serah-terima cindera mata dari masing-masing kampus, foto bersama, touring laboratorium di Kimia ITB dan sharing program kerja dan kemahasiswaan masing-masing himpunan. –ibr-

 

LAST_UPDATED2
 
Kuliah Wawasan Forensik dan Scientific Crime Investigation
Ditulis oleh Administrator   
Kamis, 24 Mei 2012 01:50
Jum’at 4 Mei 2012, bertempat di ruang kuliah 2104, program studi kimia ITB mengadakan kuliah wawasan Forensik dan Scientific Crime Investigation dari Pusat Laboratorium Forensik (Puslabfor) Bareskrim Mabes Polri, yang disampaikan oleh Kombes Agus Irianto (alumni kimia ITB ’82) dan AKBP Wahyu Marsudi.
Acara yang dimulai pukul 13.30 ini dimoderatori Antoni Budhi Prasetyo dan menarik banyak minat mahasiswa kimia. Diawali sambutan dari ketua program studi, Dr. M. Bachri Amran menyampaikan bahwa kuliah ini akan memberikan pendekatan real keprofesian kimia dan memperluas pengetahuan kekimiaan secara komprehensif di dunia kerja. Selain ketua program studi, hadir dalam kuliah wawasan ini, para dosen yang mendalami keilmuan kimia analitik Dra. Samitha Dewi Djajanti, Dr. Suryo Gandasasmita, Ria Sri Rahayu M.Si dan dosen kimia organik Dr. Ciptati M.S.
Adapun mahasiswa yang hadir, adalah peserta mata kuliah KI4211 Kimia Masyarakat dan KI5224 Cara-cara Analisis Khusus serta mahasiswa lain yang berminat dan ingin menambah wawasan cakrawala kimia secara nyata.
Ilmu forensik sendiri adalah penggunaan berbagai disiplin ilmu baik dasar maupun terapan untuk kepentingan membantu proses penegakan keadilan hukum. Bidang ilmu yang terkait diantaranya kimia, kedokteran, biologi, hukum, fisika, kriminologi, dan teknik.
Beberapa prinsip forensik sendiri diterangkan oleh AKBP Wahyu Marsudi bahwa suatu objek itu berciri khusus. Kontak dan benturan yang terjadi akan dipastikan terjadi pertukaran materi. Selain itu, sesuatu akan berubah seiring berjalannya waktu, maka sampling yang tepat sangat berperan penting untuk menghasilkan analisis yang akurat. Dan semuanya itu akan menghasilkan suatu fakta dan kebenaran yang tidak pernah bohong, meskipun orang dapat berbohong dan mengelak. Dari proses foreksik yang begitu panjang, 80% -nya sangat difokuskan pada pengolahan tempat kejadian perkara.
Lebih lanjut, beliau menyampaikan beberapa kegunaan forensik diantaranya sebagai informasi adanya tindak pidana, informasi tentang modus operandi, mengaitkan tersangka dengan korban dan tempat kejadian perkara, menyangkal atau mendukung pernyataan saksi, mengidentifikasi tersangka dan mengarahkan penyelidikan dan penyidikan. Dari keahliannya mengolah forensik, sering kali para nara sumber ini memberikan keterangan di pengadilan sebagai saksi ahli.
Dalam kuliah ini juga ditampilkan beberapa pengolahan TKP seperti kasus bom Bali dan JW Marriot, kebakaran, pemalsuan produk dan pabrik narkoba. Laboratorium forensik (labfor) sendiri di Indonesia ada di Kota Jakarta, Medan, Palembang, Semarang, Surabaya, Bali dan Makasar. Jumlah ini akan terus dikembangkan samapi setidaknya setiap provinsi memiliki labfor masing-masing. Maka untuk menunjang cita-cita tersebut, kebutuhan tenaga ahli pun sangat diperlukan di bidang ini.

 

LAST_UPDATED2
 
KULIAH LAPANGAN KIMIA LINGKUNGAN 2012
Ditulis oleh Administrator   
Rabu, 23 Mei 2012 07:30
Pada tanggal 5 Mei 2011 pukul 01.00, Mahasiswa Kimia angkatan 2009 yang berjumlah sekitar sembilan puluh orang beserta beberapa dosen yang membimbing, yaitu Bapak Hiskia Achmad, Bapak Ali Zulfikar, dan Bapak Hidayat  berangkat bersama menuju kawasan Nusawiru, Ciamis, Jawa Barat untuk melakukan kuliah lapangan untuk mata kuliah kimia lingkungan. Setelah melewati perjalanan sekitar delapan jam, rombongan mahasiswa tiba di lokasi pengambilan sampel, yaitu di sungai yang terletak dikawasan tersebut. Untuk melakukan pengambilan sampel, mahasiswa Kimia dibagi menjadi beberapa kelompok dan masing-masing kelompok diwajibkan membawa alat untuk mengambil  sampel air sungai. Kelompok- kelompok tersebut akan mengambil sampel air sungai pada spot-spot tertentu yang telah ditentukan koordinatnya oleh dosen kuliah Kimia Lingkungan. Untuk mencapai spot-spot tersebut, mahasiswa harus mengarungi sungai dengan menggunakan kapal nelayan yang terdapat disekitar sungai.
Sampel yang diambil merupakan sampel air sungai yang berada pada berbagai kedalaman, yaitu  dasar sungai (sekitar 5 m), pertengahan (sekitar 2,5 m), dan permukaan sungai. Pada saat pengambilan  sampel, terlebih dahulu diukur suhu permukaan air sungai.  Ketiga sampel tersebut selanjutnya diteliti keasamannya dan sifat konduktivitasnya dengan menggunakan instrument yang telah dibawa dari laboratorium kimia. Sampel yang telah diteliti kemudian dimasukkan kedalam freezer untuk dibawa pulang dan diteliti lebih lanjut di laboratorium.
Lokasi pengambilan sampel relatif dekat dengan kawasan wisata green canyon, karenanya, setelah proses penelitian sampel selesai, banyak mahasiswa yang meneruskan perjalanan menuju green canyon dengan menggnakan kapal. Setelah tiba dilokasi, berapa mahasiswa memilih untuk berenang menyusuri tebing-tebing yang terdapat disana. Setelah sekitar 2 jam berada di lokasi wisata tersebut, kami meneruskan perjalanan menuju Pantai Pangandaran, dimana kami akan bermalam disana. Perjalanan menuju lokasi penginapan ditempuh selama 2 jam. Setelah tiba di penginapan, mahasiswa diberikan waktu luang untuk melakukan berbagai hal di kawasan pantai. Keesokan harinya, Minggu 6 Mei 2012 pada pukul 10.00 WIB kami meninggalkan Pantai Pangandaran untuk kembali ke Bandung dan kembali melakukan rutinitas perkuliahan esok harinya.

 

LAST_UPDATED2
 
« MulaiSebelumnya12345678910BerikutnyaAkhir »

Halaman 6 dari 15
Indonesian (Indonesia)English (United Kingdom)

Berita ITB


Berita Kimia ITB 

April 2014
M T W T F S S
31 1 2 3 4 5 6
7 8 9 10 11 12 13
14 15 16 17 18 19 20
21 22 23 24 25 26 27
28 29 30 1 2 3 4

Related